Merayakan Warisan Dunia, Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026
2 Februari diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia, di tahun 2026 ini mengambil tema “Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Dunia”, yang menggarisbawahi hubungan mendalam antara lahan basah, manusia, dan budaya. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak menghadiri seminar yang diselenggarakan Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Tanjungpura (Sabtu, 7 Februari 2026).
Seminar ini menghadirkan 3 pemateri, pertama Hera Yulita dengan tema Identitas Sejarah dan Pengetahuan Tradisional dalam Pengelolaan Parit Sungai Jawi Kota Pontianak. Kemudian pemateri kedua Nursalim Yadi Anugerah dengan tema Keanekaragaman Bio Kultural dan Narasi Trans Lokalitas Komunitas dalam Bunyi. Terakhir, Delvia Devi Mardani dengan tema Kearifan Lokal Ketemenggungan Tae dalam Pengelolaan Hutan.
Parit di Sungai Jawi termasuk ekosistem lahan basah yang dibangun sejak penjajahan Belanda sebagai sistem drainase untuk mengatur muka air tanah. Hingga saat ini, parit di Sungai Jawi memiliki pergeseran nilai dari jalur transportasi dan ruang publik menjadi jalur drainase perkotaan. Aktivitas masyarakat, khususnya usaha yang berkembang di sekitaran parit di Sungai Jawi turut menyumbang tingkat pencemaran di sungai. Berdasarkan pemaparan dari Hera, bahwa kondisi air pada parit di Sungai Jawi menurun akibat pencemaran organik dan timbulan sampah. Hasil pemantauan kualitas air menunjukkan tekanan pencemaran organik, dimana kadar BOD, COD yang tinggi dan kadar DO yang rendah. Kadar BOD dan COD yang tinggi dan DO yang rendah merusak ekosistem perairan dan berdampak buruk pada kesehatan manusia. Maka dari itu, perlunya penataan ulang kawasan parit, pengawasan kegiatan usaha di sekitaran parit Sungai Jawi yang menimbulkan unsur pencemar dan peningkatan peran serta masyarakat dapat dilakukan dalam menjaga keberlangsungan parit. Apalagi saat ini, parit Sungai Jawi lebih dijadikan sebagai ruang rekreatif dengan adanya kegiatan sosial masyarakat yang digagas komunitas.
Selanjutnya, keanekaragaman hasil hutan dan budaya dalam bentuk alat musik Kadedek, yang disampaikan Nuryadi, terbuat dari labu, bambu dan daun sejenis daun nipah, yang didapat dari hutan menjadi pengingat bahwasanya menjaga keberlanjutan lingkungan berperan dalam pelestarian budaya. Dalam hal keberlanjutan lingkungan, peran masyarakat melalui tradisi dan hukum adat, seperti yang disampaikan Delvi, dengan contoh kearifan lokal di Ketemenggungan Tae, Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau ini dapat berjalan beriringan untuk pemanfaatan dan pelestarian hutan.
Penyampaian materi yang berbeda ini tetap berujung pada hubungan antara manusia dan lingkungan. Sejalan dengan tema peringatan Hari Lahan Basah Sedunia, penerapan ilmu pengetahuan dan tradisi di masyarakat berperan terhadap lingkungan. Baik itu sungai di kawasan perkotaan, pelestarian budaya dari hasil hutan, hingga penerapan kearifan lokal dalam menjaga dan melestarikan hutan adalah bentuk tanggung jawab dan kepedulian masyarakat terhadap keanekaragaman hayati yang tidak hanya dapat dinikmati untuk saat ini, tapi juga generasi mendatang. (Febi)
