• Senin-Jum'at: 7am-16pm
  • JL. Alianyang No. 7B Pontianak
  • dlh@pontianak.go.id
  • FAQs
  • Login JAS
blog

DLH KOTA PONTIANAK DAN FKH GELAR KEGIATAN BINCANG “SAJADA” DI MASJID MUJAHIDIN

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan selama bulan Ramadan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak berkolaborasi dengan Forum Komunitas Hijau Kota Pontianak menyelenggarakan kegiatan Bincang SAJADA (Semarak Aksi Jaga Lingkungan dan Masjid). Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2026, bertempat di panggung pujasera area Masjid Mujahidin Pontianak, Kota Pontianak.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 16.00 hingga menjelang waktu berbuka puasa ini dikemas dalam bentuk dialog interaktif yang dimoderatori oleh Ketua Forum Komunitas Hijau Kota Pontianak, Vivi Norvika Hariyantini. Dialog menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Bapak Ir. Sy. Usmulyono, MT., perwakilan Yayasan Pengurus Masjid Mujahidin, H. Fuadi Yusla, S.T. M.M, serta Ketua Rumpon (Rumah Komunitas Pontianak), Ario Sabrang.

Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak menyampaikan bahwa momentum bulan puasa tidak hanya menjadi waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk mengendalikan kebiasaan yang berdampak pada lingkungan, salah satunya yaitu mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Ia mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan membawa wadah makanan sendiri serta kantong belanja yang dapat digunakan kembali saat membeli takjil. Menurutnya, kantong plastik sekali pakai merupakan salah satu jenis sampah yang sulit didaur ulang dan berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Sampah plastik yang terurai dapat berubah menjadi mikroplastik yang berbahaya bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Mikroplastik tersebut dapat masuk ke rantai makanan melalui biota perairan seperti ikan, yang kemudian dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia ketika dikonsumsi.

Sementara itu, perwakilan Yayasan Pengurus Masjid Mujahidin menyampaikan bahwa selama bulan Ramadan terjadi peningkatan timbulan sampah yang cukup signifikan di area masjid. Jika pada hari biasa timbulan sampah berkisar sekitar 5 karung per hari, maka selama bulan puasa jumlahnya dapat meningkat hingga sekitar 80 karung per hari. Pihak pengelola masjid telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi timbulan sampah tersebut, di antaranya melalui himbauan kepada pengunjung dan pedagang di area pujasera agar tidak membuang sampah sembarangan serta mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai seperti plastik kresek, plastik mika, tusuk sate, maupun kertas. Himbauan serupa juga telah diterapkan di area di bawah menara besar Masjid Mujahidin yang kerap digunakan masyarakat untuk berbuka puasa bersama.

Selain itu, Ketua Rumpon Kota Pontianak turut mengajak masyarakat, khususnya generasi muda yang mendominasi aktivitas di area pujasera Masjid Mujahidin, untuk mulai membiasakan diri membawa wadah makanan sendiri ketika berbelanja. Ia menekankan bahwa menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi sampah juga dapat menjadi salah satu bentuk ibadah dan amal selama bulan Ramadan.

Kegiatan dialog interaktif ini ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber dan peserta, sebelum kemudian para peserta diajak berkeliling ke sekitar area Masjid Mujahidin khususnya di area Pujasera Masjid Mujahidin untuk menyuarakan aksi menjaga lingkungan sambil membawa alat peraga kampanye yang berisi pesan untuk menjaga lingkungan. adapun pesan yang disampaikan yaitu untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai, membuang sampah pada tempatnya, ajakan untuk tidak membuang sampah di perairan dan menjaga ekosistem perairan, membawa botol tumbler sebagai pengganti botol sekali pakai, serta memilah sampah sesuai dengan jenisnya.

Melalui kegiatan SAJADA ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya dalam mengurangi timbulan sampah selama bulan Ramadan. Kesadaran untuk mengelola sampah dengan baik diharapkan dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat, sekaligus menjadi wujud kepedulian bersama dalam menjaga lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari.